Membaca Pemikiran Syed Naquib Al-Attas: Serambi Peradaban Forum Mengupas Makna Islam, Ta’dib dan Kebahagian
Jumat -7 Maret 2025 – Pemikiran Islam kontemporer terus menjadi bahan kajian yang relevan bagi intelektual Muslim dalam menghadapi tantangan zaman. Salah satu pemikir yang menawarkan landasan Worldview Islam bagi perbaikan intelektual Islam adalah Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas. Dengan gagasannya tentang Makna Din, konsep ta’dib dalam pendidikan, serta kebahagiaan dalam Islam, Al-Attas memberikan perspektif mendalam berdasarkan pandangan hidup Islam.
Dalam rangka menelaah lebih dalam gagasan-gagasan Al-Attas, Serambi Peradaban Forum (SPF) menggelar diskusi bertajuk Buka Laci (Buka Puasa Sambil Baca dan Diskusi) dalam program Ramadhan di Serambi Peradaban #2. Diskusi yang diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting ini mengangkat tema Membaca Pemikiran Syed Muhammad Naquib Al-Attas, dengan menghadirkan tiga narasumber yang mendalami pemikiran beliau melalui tiga karya utama.
Tahun ini, Buka Laci hadir dengan format yang lebih sistematis dan mendalam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Jika sebelumnya diskusi hanya berfokus pada berbagi poin menarik dari sebuah buku, kali ini acara menghadirkan tiga pemantik dengan minat yang sama terhadap kajian pemikiran Al-Attas. Hal ini membuat diskusi berjalan lebih terstruktur dan saling berkesinambungan, memungkinkan peserta memahami pemikiran Al-Attas secara lebih menyeluruh, khususnya dalam tiga pilar utama: Islam, Pendidikan, dan Kebahagiaan.
Pemikiran Al-Attas tentang Agama (Din) dan Akhlak
Diskusi dimulai dengan pemaparan Achmad Resa, alumnus Filsafat UGM dan pengurus Pesantren Mahasiswa Bentala Insan Adabi, yang membahas buku Islam: Faham Agama dan Asas Akhlak. Dalam presentasinya, Resa mengupas secara kritis bagaimana Al-Attas mendekonstruksi konsep agama (Religion) dalam pemikiran Barat yang sekularistik dan membandingkannya dengan pemahaman Islam yang mendalam dengan inti pembahasan makna Din dan turunan devirasinya.
Menurut Al-Attas, istilah religion dalam tradisi Barat mengalami reduksi, sementara dalam Islam, konsep Din tidak sekadar merujuk pada kepercayaan atau ritual, tetapi juga mencakup sistem kehidupan yang berlandaskan wahyu. Resa menegaskan bahwa Islam menuntut amalan bil arkan—yakni praktik nyata melalui amal dan akhlak yang sesuai dengan nilai-nilai ilahiah—sebagai wujud konkret dari nilai keagamaan seseorang.
Al-Attas juga mengkritik gagasan relativisme moral dalam peradaban Barat modern yang memisahkan etika dari dimensi ilahiyah. Baginya, akhlak dalam Islam bukan sekadar hasil kesepakatan sosial, tetapi memiliki sumber yang absolut, yaitu wahyu Allah.
Pendidikan Islam dan Islamisasi Ilmu: Konsep Ta’dib Sebagai Akar
Diskusi kemudian berlanjut dengan pemaparan Alvin Qodri Lazuardy, alumni Studi Agama-Agama UNIDA Gontor dan Pascasarjana PAI UMP, yang membahas buku Falsafah dan Amalan Pendidikan Islam karya Prof. Wan Mohd Nor Wan Daud. Buku ini merupakan elaborasi mendalam atas gagasan Al-Attas mengenai pendidikan Islam yang bertujuan mencetak Insan Adabi—yakni individu yang beradab, tidak hanya dalam perilaku, tetapi juga dalam berpikir dan memahami ilmu.
Alvin menjelaskan bahwa bagi Al-Attas, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu, tetapi lebih dari itu, merupakan proses internalisasi nilai-nilai Islam secara bertahap dalam manusia. Ia menekankan pentingnya konsep ta’dib—sebuah istilah yang lebih tepat dibandingkan dengan pendidikan (tarbiyah) atau pengajaran (ta’lim), karena ta’dib mengandung makna mendidik manusia agar berakhlak sesuai dengan prinsip-prinsip Islam.
Salah satu gagasan utama dalam pendidikan Islam menurut Al-Attas adalah klasifikasi ilmu menjadi Fardu ‘Ayn dan Fardu Kifayah. Ilmu-ilmu agama yang bersifat fundamental bagi individu, seperti tauhid, ibadah, dan akhlak, dikategorikan sebagai Fardu ‘Ayn, sedangkan ilmu-ilmu yang bersifat instrumental dan sosial, seperti sains dan teknologi, termasuk dalam Fardu Kifayah. Dengan sistem ini, pendidikan Islam tidak hanya menghasilkan individu yang menguasai ilmu, tetapi juga memiliki kesadaran moral dan tanggung jawab sosial.
Konsep Islamisasi ilmu yang diusung Al-Attas juga menjadi bagian penting dari diskusi ini. Islamisasi ilmu bukan berarti menolak ilmu-ilmu modern yang berkembang di Barat, melainkan menyaring dan menyusun kembali ilmu tersebut agar sesuai dengan nilai-nilai Islam. Ini menjadi langkah penting dalam menghadapi tantangan sekularisasi yang banyak memengaruhi sistem pendidikan di dunia Muslim saat ini.
Makna Kebahagiaan dalam Islam
Pembicara terakhir, M. Luthfan Hibatullah, mahasiswa STAI Imam Syafi’i dan pengajar di Pesantren At-Taqwa Depok, mengulas buku Makna Kebahagiaan dan Pengalamannya dalam Islam. Dalam paparannya, ia menjelaskan bahwa konsep kebahagiaan dalam Islam tidak dapat disamakan dengan kebahagiaan dalam perspektif materialisme Barat yang sering kali diukur melalui aspek ekonomi atau kepuasan psikologis semata.
Menurut Al-Attas, kebahagiaan sejati (sa’adah) hanya dapat dicapai melalui hubungan yang erat dengan Allah dan kesadaran akan hakikat keberadaan manusia sebagai hamba-Nya. Dalam Islam, kebahagiaan tidak hanya bersifat duniawi, tetapi memiliki dimensi ukhrawi, di mana puncaknya adalah ru’yatullah fil akhoh—yakni perjumpaan dengan Allah di akhirat.
Konsep ini mengajarkan bahwa kebahagiaan tidak dapat dicapai hanya dengan pemenuhan kebutuhan material, melainkan melalui pencarian ilmu yang benar, ibadah yang khusyuk, serta pemurnian jiwa melalui tazkiyah an-nafs. Dengan perspektif ini, Al-Attas menawarkan pendekatan yang lebih mendalam dan filosofis terhadap makna kebahagiaan yang berbeda dari narasi populer tentang kesejahteraan dalam dunia modern.
Membuka Pintu Gerbang Pemikiran Al-Attas
Sebagai refleksi dari diskusi ini, panitia menegaskan bahwa tujuan utama Buka Laci bukan untuk memberikan pemahaman yang mendalam tentang pemikiran Al-Attas secara instan, tetapi sebagai pengantar agar peserta mengenal sosok dan gagasan umumnya. “Kami berharap, Buka Laci kali ini menjadi pintu gerbang bagi peserta untuk lebih jauh menyelami pemikiran Prof. Syed Muhammad Naquib Al-Attas,” ujar Jundi Rabbani, Manajer Program SPF.
Diskusi ini menunjukkan bahwa pemikiran Islam masih memiliki daya tarik yang kuat di kalangan intelektual muda. Dengan format yang lebih mendalam dan terstruktur, diharapkan lebih banyak kajian serupa yang dapat memperkaya wawasan keilmuan dan menginspirasi generasi Muslim dalam menghadapi tantangan zaman.
Sebagai penutup, warisan pemikiran Al-Attas menjadi instrumen penting dalam membangun peradaban Islam yang berlandaskan ilmu, agama, dan akhlak. Melalui forum seperti ini, semangat intelektual Muslim dapat terus berkembang, membawa umat Islam ke arah kebangkitan peradaban yang lebih kokoh dan berorientasi pada nilai-nilai Islam secara menyeluruh dengan Worldview Islam.