Meraih Kemenangan Hakiki di Hari Raya Idul Fitri
Oleh: Bayu Dwi Cahyono, M.Pd/ LPPI UM Purwokerto, Dosen FAI UMP
Hari Raya Idul Fitri merupakan momentum besar bagi umat Islam. Lebaran tidak hanya menjadi ajang silaturahmi dan berbagi kebahagiaan, tetapi juga momen untuk merenungkan hakikat kemenangan yang sesungguhnya. Setelah sebulan penuh menahan lapar, dahaga, serta berbagai godaan nafsu, tibalah saatnya bagi setiap Muslim untuk merayakan keberhasilan dalam mengendalikan diri dan meningkatkan ketakwaan.
Dalam khutbah Idul Fitri yang disampaikan, terdapat pesan yang mendalam tentang makna kemenangan. Bukan sekadar kemenangan dalam menahan lapar dan haus, melainkan kemenangan dalam menundukkan hawa nafsu dan meningkatkan kualitas ibadah. Idul Fitri sejatinya mengembalikan kita kepada fitrah, yaitu keadaan suci sebagaimana saat kita dilahirkan. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa yang berpuasa di bulan Ramadhan dengan penuh keimanan dan mengharap pahala dari Allah, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kembali kepada Kesucian
Makna Idul Fitri bukan hanya tentang kembali berbuka setelah sebulan berpuasa, tetapi juga kembali kepada kesucian jiwa. Dalam prosesnya, Ramadhan melatih kita untuk mengendalikan hawa nafsu dan membangun hubungan yang lebih kuat dengan Allah. Ketika takbir berkumandang, kita diingatkan bahwa segala kebesaran dan kejayaan hanyalah milik Allah. Umat Islam diminta untuk bersyukur dan tetap rendah hati dalam kemenangan ini.
Namun, apakah kemenangan itu hanya untuk hari ini? Apakah selesai setelah kita melaksanakan shalat Id dan bersilaturahmi? Tentu tidak. Kemenangan sejati justru harus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari. Kemenangan bukanlah sekadar perayaan, melainkan sebuah awal untuk menjaga kebaikan yang telah diperoleh selama Ramadhan.
Menjadi Muslim yang Lebih Baik
Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik bagi setiap Muslim untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Allah telah memberikan kesempatan bagi kita untuk memperbaiki diri, dan Ramadhan adalah madrasah terbaik untuk menempa keimanan. Kebiasaan baik yang telah dibangun, seperti shalat malam, membaca Al-Qur’an, dan menahan amarah, seharusnya tetap dijaga meskipun Ramadhan telah berakhir.
Seorang Muslim yang benar-benar meraih kemenangan adalah mereka yang dapat menjaga ibadahnya secara konsisten. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus walaupun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, mari kita bertanya kepada diri sendiri: Apakah kita akan tetap melaksanakan shalat lima waktu tepat waktu? Apakah kita masih akan membaca Al-Qur’an setiap hari? Apakah kita akan tetap menjaga lisan dan hati dari hal-hal yang buruk? Jika jawaban kita adalah “ya,” maka itulah tanda kemenangan sejati.
Mengokohkan Silaturahmi dan Kepedulian Sosial
Idul Fitri juga menjadi momen untuk mempererat silaturahmi dan menumbuhkan kepedulian sosial. Islam mengajarkan bahwa kemenangan tidak hanya bersifat individual, tetapi juga harus dirasakan oleh sesama. Zakat fitrah yang diwajibkan sebelum Idul Fitri adalah salah satu bentuk kepedulian Islam terhadap kaum fakir dan miskin. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Puasa seseorang tergantung antara langit dan bumi, tidak diangkat kecuali dengan zakat fitrah.” (HR. Abu Dawud)
Pesan ini mengajarkan bahwa puasa kita belum sempurna jika kita tidak memiliki kepedulian terhadap sesama. Oleh karena itu, Idul Fitri harus menjadi sarana untuk berbagi kebahagiaan, baik dengan keluarga, tetangga, maupun mereka yang membutuhkan.
Silaturahmi adalah salah satu amalan yang sangat dianjurkan di hari kemenangan ini. Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak akan masuk surga orang yang memutuskan tali silaturahmi.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Maka, momen ini harus digunakan untuk saling memaafkan, melupakan dendam, dan mempererat ukhuwah Islamiyah. Jangan sampai kita terjebak dalam formalitas Lebaran tanpa makna, di mana hanya sekadar saling bersalaman tanpa ketulusan hati.
Melanjutkan Semangat Ramadhan
Ramadhan mengajarkan kita untuk bersabar, menahan amarah, dan meningkatkan ibadah. Jika nilai-nilai ini tetap dipertahankan setelah Ramadhan, maka kita telah meraih kemenangan yang sesungguhnya. Sebaliknya, jika setelah Ramadhan kita kembali kepada kebiasaan buruk, maka kita telah menyia-nyiakan pelajaran yang diberikan Allah selama sebulan penuh.
Mari kita evaluasi diri: Apakah kita menjadi lebih sabar setelah Ramadhan? Apakah kita lebih peduli terhadap sesama? Apakah kita lebih dekat dengan Allah? Jika jawabannya adalah “ya,” maka kita benar-benar telah kembali kepada fitrah yang sesungguhnya.
Penutup
Idul Fitri bukan hanya perayaan, melainkan momentum untuk meneguhkan kembali komitmen sebagai Muslim yang lebih baik. Kemenangan sejati bukan hanya diukur dari keberhasilan menahan lapar dan haus selama Ramadhan, tetapi juga dari kemampuan untuk mempertahankan amal ibadah dan nilai-nilai kebaikan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keberkahan Idul Fitri, kembali dalam keadaan suci, serta mampu menjaga semangat kebaikan yang telah dibangun selama Ramadhan. Taqabbalallahu minna wa minkum, mohon maaf lahir dan batin. Selamat merayakan kemenangan dengan penuh makna!
Wallahu a’lam bish-shawab.