لَا تَنْظُرَنَّ لِأَثْوَابٍ عَلَى أَحَدٍ # إِنْ رُمْتَ تَعْرِفَهُ فَانْظُرْ إِلَى الْأَدَبِ
Janganlah engkau melihat pakaian yang ada pada seseorang#
Jika engkau ingin mengenal orang itu maka lihat adabnya.
Oleh: Alvin Qodri Lazuardy/ Ka. Sekolah SMP Berbasis Pesantren At-Tin
Cara pandang terhadap kehidupan dalam Islam atau boleh disebut dengan Worldview Islam mempunyai banyak keunikan. Diantara keunikan tersebut adalah Islam dalam memandang dunia sangatlah menyeluruh dan utuh. Memandang dimensi zhahiriyah dan dimensi bathiniyah.
Sebagai tamsil, pendidikan dalam Islam bukanlah sekadar transformasi pengetahuan secara zhahir saja, namun ia sampai pada penanaman adab dan akhlaq al-karimah kepada peserta didik. Dari ini sangat kentara, bahwa ciri khas Islam adalah konfrehensif bersifat syumul, menyeluruh dari elemen terlihat (visible) dan yang tidak terlihat (invisible).
Selaras dengan salah satu pilar pendidikan nasional. Termaktub dalam UUD 45’ pasal 31 di ayat 3 berbunyi Pemerintah mengusahakan dan menyelenggarakan satu sistem pendidikan nasional, yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta akhlak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, yang diatur dengan undang-undang. Terdapat beberapa kata kunci dalam pilar pendidikan nasional, tersemat di dalamnya kata Iman, Taqwa dan Akhlaq al-Karimah, boleh dibilang ketiga kata ini adalah kunci dalam worldview Islam yang bersifat metafisik (bathiniyah) bersemayam dalam hati (qalb), sekaligus sebagai penegasan bahwa pendidikan nasional berprinsip bukan hanya pada dimensi fisik (zhahiriyah), namun ia menyeluruh sampai pada dimensi metafisik (bathin).
Namun, cara pandang kepada kehidupan di dunia ini, bukan hanya seperti Islam saja, banyak pandangan hidup yang seiring zaman menjadi tren di kehidupan semasa ini. Lawan dari pandangan yang konfrehensif (syumul) ialah pandangan dikotomik menempel sifat-sifat sekularistik. Memisahkan dimensi yang seharusnya sudah mapan dan baku menjadi satu, namun kemudian diputus, dipisahkan dan diredefinisi yang jauh dari makna sebenarnya.
Kembali pada penginsyafan “Pendidikan Islam”, tujuan utama dalam laju dan proses pembinaan Islam bermuara pada mencetak “Insan Adabi” manusia yang beradab. Seperti dalam uraian buku Konsep Pendidikan Dalam Islam karya Ulama Melayu Prof. Naquib al-Attas bahwa tujuan utama dalam pendidikan (ta’dib) adalah mencetak orang yang baik dan beradab. Dari sini terlihat kembali bahwa inti pendidikan adalah mencetak orang yang baik, orang yang baik disini bukanlah baju luarannya (zhahir) yang terlihat mentereng, namun baik di dalam sisi kedalaman hati (qalb) yang berupa adab.
Tren sekularistik telah mencabar bangunan mapan cara pandang Islam terhadap pendidikan. Ia memisah, memecah dan membilah kesatuan dari hal-hal luaran (zhahir) dan dalaman (bathin). Mempromosikan kebagusan baju luaran dan tidak memperdulikan kedalaman jiwa (nafs). Akibatnya, pendidikan di zaman ini lebih suka memandang baju luaran saja. Sekolah-kuliah untuk sekadar untuk kerja, mencari materi sebagai standar keberhasilan, bahkan membatasi rezeki hanya berbentuk materi.
Seyogianya, pendidikan dalam semasa ini mempunyai visi: memandang manusia bukannlah melihat baju luarannya saja, namun lihatlah manusia itu dalam sisi adabnya. Selanjutnya dalam rangka taat dan patuh UUD 45’ pasal 31 ayat 3, bahwa pendidikan itu mendidik manusia agar melihat realitas kehidupan ini dengan iman, taqwa, akhlaq al-karimah dan adab. Bukan mendidik manusia membaguskan baju luarannya. Karena untuk memandang nilai manusia bukan dari pakaiannya, melainkan lihatlah bagaimana adabnya. Tabik!