Menjaga Lingkungan sebagai Bentuk Ketakwaan kepada Allah
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ
الحمد لله، نحمده ونستعينه ونستغفره، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا ومن سيئات أعمالنا، من يهده الله فلا مضل له، ومن يضلل فلا هادي له. أشهد أن لا إله إلا الله وحده لا شريك له، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله. اللهم صل وسلم وبارك على سيدنا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Alam semesta ini adalah tempat di mana kehidupan kita terwujud secara utuh. Dari udara yang kita hirup, air yang kita minum, hingga tanah yang kita pijak, semua adalah karunia Allah yang begitu besar. Keberadaan kita sebagai manusia tidak dapat dipisahkan dari hubungan kita dengan alam. Oleh karena itu, bagaimana kita memperlakukan alam akan sangat menentukan keberlangsungan kehidupan kita sendiri.
Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman:
الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ طِبَاقًا مَا تَرَىٰ فِي خَلْقِ الرَّحْمَٰنِ مِن تَفَاوُتٍ فَارْجِعِ الْبَصَرَ هَلْ تَرَىٰ مِن فُطُورٍ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنقَلِبْ إِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَهُوَ حَسِيرٌ
(QS. Al-Mulk: 3-4)
“Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu melihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian ulangilah pandanganmu sekali lagi, niscaya pandanganmu akan kembali kepadamu dalam keadaan letih dan kecewa.”
Ayat ini mengajarkan kepada kita bahwa Allah menciptakan alam semesta dalam keseimbangan yang sempurna. Tidak ada cacat dalam ciptaan-Nya, tidak ada kekurangan dalam pengaturan-Nya. Namun, sering kali manusialah yang merusak keseimbangan ini dengan tangan mereka sendiri.
Jama’ah yang berbahagia,
Islam mengajarkan bahwa manusia bukanlah penguasa absolut atas bumi, melainkan khalifah yang bertanggung jawab untuk menjaga dan merawatnya. Allah berfirman:
وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا
(QS. Al-A’raf: 56)
“Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi setelah Allah memperbaikinya.”
Perintah ini sangat jelas: kita tidak boleh merusak apa yang telah Allah ciptakan dengan indah dan seimbang. Sayangnya, realitas saat ini menunjukkan bahwa banyak manusia mengabaikan perintah ini. Hutan-hutan ditebang secara liar, sungai-sungai tercemar oleh limbah industri, udara menjadi penuh polusi akibat kerakusan manusia terhadap eksploitasi alam. Akibatnya, bencana alam semakin sering terjadi, seperti banjir, tanah longsor, dan perubahan iklim yang ekstrem. Semua ini adalah dampak dari ketidakseimbangan yang kita ciptakan sendiri.
Hadirin yang dirahmati Allah,
Islam tidak hanya menegaskan kewajiban kita untuk menjaga lingkungan, tetapi juga menawarkan konsep keberlanjutan melalui prinsip kauniyah, yaitu bahwa alam adalah ayat-ayat Allah yang harus kita hayati dan pelihara. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah memberikan teladan dalam menjaga lingkungan. Beliau melarang menebang pohon secara sembarangan, mengajarkan pentingnya menanam pohon, dan bahkan dalam keadaan perang sekalipun, beliau melarang umat Islam untuk merusak lingkungan.
Dalam sebuah hadits, Rasulullah bersabda:
إِنْ قَامَتِ السَّاعَةُ وَفِي يَدِ أَحَدِكُمْ فَسِيلَةٌ، فَإِنِ اسْتَطَاعَ أَنْ لاَ تَقُومَ حَتَّى يَغْرِسَهَا فَلْيَغْرِسْهَا
(HR. Ahmad)
“Jika hari kiamat hendak terjadi, sementara di tangan salah seorang di antara kalian ada benih kurma, maka jika ia mampu menanamnya sebelum kiamat terjadi, hendaklah ia menanamnya.”
Hadits ini mengajarkan kepada kita bahwa menjaga kelestarian alam adalah ibadah yang berpahala besar. Bahkan dalam situasi yang sangat genting, menanam pohon tetap menjadi amal yang dianjurkan.
Jama’ah yang dirahmati Allah,
Menjaga lingkungan bukan hanya soal kepentingan manusia semata, tetapi juga merupakan bentuk syukur atas nikmat yang telah Allah berikan. Setiap langkah kecil yang kita lakukan dalam menjaga alam adalah bentuk ibadah. Mengurangi penggunaan plastik, tidak membuang sampah sembarangan, menanam pohon, dan menggunakan sumber daya alam dengan bijak adalah bagian dari kepatuhan kita kepada Allah.
Oleh karena itu, marilah kita mulai dari diri kita sendiri dan keluarga kita untuk lebih peduli terhadap lingkungan. Jadikan kesadaran ekologis sebagai bagian dari ketakwaan kita kepada Allah. Sebab, dengan menjaga alam, kita tidak hanya menyelamatkan kehidupan kita dan generasi mendatang, tetapi juga menunjukkan rasa hormat dan penghambaan kepada Sang Pencipta.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala memberikan kita kekuatan dan keistiqamahan dalam menjaga amanah ini.
آمِينَ يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ