Oleh: Alvin Qodri Lazuardy
Dalam era Society 5.0, satuan pendidikan memiliki tantangan besar untuk menjadi pintu gerbang utama dalam mempersiapkan sumber daya manusia (SDM) unggul. Society 5.0 diperkenalkan oleh Pemerintah Jepang pada tahun 2019 sebagai respons terhadap disrupsi yang kompleks dan ambigu akibat Revolusi Industri 4.0. Gejolak ini mengancam nilai-nilai kemanusiaan yang telah lama dijunjung tinggi. Dalam menghadapi era ini, dunia pendidikan memiliki peran sentral dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan, elemen-elemen lain seperti pemerintah, organisasi masyarakat, dan seluruh masyarakat juga berperan dalam menyambut era Society 5.0 (Nurani, 2021).
Dalam menghadapi era Society 5.0, pendidikan mampu mengalami perubahan paradigma. Guru tidak hanya menjadi penyedia materi pembelajaran, tetapi juga mampu menjadi sumber inspirasi bagi kreativitas peserta didik (Nurani, 2021).
Adaptasi dan pengembangan kompetensi juga menjadi kunci dalam menghadapi Society 5.0. Pemahaman tentang perkembangan generasi, seperti generasi X hingga generasi ⍺, sangat penting. Dalam dunia pendidikan, diperlukan kemampuan abad ke-21, yang dikenal sebagai 4C (Kreativitas, Berpikir Kritis, Komunikasi, Kolaborasi), baik dari guru maupun siswa (Nurani, 2021).
Siswa juga mampu memiliki enam literasi dasar, termasuk literasi data, teknologi, dan manusia, serta kemampuan berpikir kritis, berpikir logis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Selain itu, karakter seperti rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, kemampuan beradaptasi, jiwa kepemimpinan, kepedulian sosial, dan budaya juga perlu ditanamkan (Nurani, 2021).
Untuk menghasilkan SDM unggul di era Society 5.0, penguatan nilai-nilai Pancasila terhadap peserta didik melalui berbagai kegiatan seperti intrakurikuler, kokurikuler, ekstrakurikuler, dan lingkungan sekolah sangat penting. Pendidik mampu memiliki kemampuan digital dan berpikir kreatif serta memanfaatkan teknologi seperti Internet of Things, realitas virtual/augmented, dan kecerdasan buatan AI dalam proses pembelajaran (Nurani, 2021).
“Siswa juga mampu memiliki enam literasi dasar, termasuk literasi data, teknologi, dan manusia, serta kemampuan berpikir kritis, berpikir logis, berkomunikasi, berkolaborasi, dan menyelesaikan masalah. Selain itu, karakter seperti rasa ingin tahu, inisiatif, kegigihan, kemampuan beradaptasi, jiwa kepemimpinan, kepedulian sosial, dan budaya juga perlu ditanamkan”
Peran Guru sebagai penggerak yang inovatif dan dinamis dalam mengajar mampu ditingkatkan. Guru perlu memanfaatkan teknologi seperti Internet of Things, realitas virtual/augmented, dan kecerdasan buatan untuk mendukung pembelajaran yang disesuaikan dengan kebutuhan siswa. Selain itu, guru mampu memiliki keterampilan hidup abad ke-21 seperti kepemimpinan, literasi digital, komunikasi, kecerdasan emosional, kewirausahaan, kewarganegaraan global, kerja tim, dan pemecahan masalah (Nurani, 2021).
Meskipun teknologi dapat berperan penting dalam pendidikan, peran guru dalam interaksi langsung dengan siswa, pembentukan ikatan emosional, penanaman karakter, dan menjadi teladan tetap tidak dapat tergantikan. Dalam era Society 5.0, pendidikan mampu menggabungkan teknologi dengan kebijaksanaan manusia untuk menciptakan SDM unggul yang mampu menghadapi tantangan zaman ini.