Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, M.Pd/ Pengampu Mata Kuliah PAI Politeknik Harapan Bersama Tegal (POLTEK HARBER)
Mukaddimah
Manusia dan pendidikan adalah dua entitas yang saling berkelindan, saling melengkapi, dan berjalan beriringan dalam perjalanan kehidupan. Keduanya merupakan dua wajah dari satu koin, yang tanpa keberadaan salah satu, eksistensi yang lain tak akan pernah sempurna. Pendidikan tidak mungkin ada tanpa manusia, dan manusia tidak bisa tumbuh sempurna tanpa pendidikan. Sebuah hubungan hakiki yang menandakan bahwa di balik setiap insan yang bertumbuh, ada proses pendidikan yang berjalan.
Manusia (Insan) Sebagai Entitas Unik
Manusia, atau dalam istilah Al-Qur’an disebut “Insan”, telah diciptakan Allah dengan bentuk terbaik. Sebagai makhluk ciptaan-Nya, manusia dibekali dengan akal dan kemampuan berbicara yang membedakannya dari makhluk lain. Kemampuan bernalar ini, yang disebut nuthq, menjadi fondasi utama yang menjadikan manusia sebagai “hewan yang bernalar” (hayawan nathiq). Meski secara fisik manusia memiliki beberapa irisan sifat dengan makhluk hidup lainnya, seperti naluri dasar pada hewan, namun keistimewaan manusia terletak pada kemampuan akalnya yang bersifat ruhaniyah, yakni kemampuan berpikir dan berbicara dengan nalar yang Allah karuniakan.
Sebuah renungan mendalam mengingatkan kita pada percakapan agung yang pertama kali terjadi dalam dimensi metafisik manusia. Saat Allah bertanya kepada para jiwa: “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” (Alastu Bi Rabbikum?), seluruh jiwa manusia menjawab: “Ya, Kami bersaksi”* (Bala Syahidna). Dialog agung ini menjadi titik awal yang mendasari eksistensi manusia sebagai makhluk yang memiliki ikatan spiritual dengan Penciptanya. Inilah perjanjian primordial, yang dalam bahasa agama disebut Mitsaqon Gholizho, sebuah perjanjian kuat yang mengikat manusia dengan fitrahnya.
Dalam konteks ini, fitrah manusia tidak hanya sekadar insting atau sifat bawaan lahir, tetapi sebuah pengakuan akan ketuhanan Allah. Kullu mauludin yuladu ‘alal fithroh—setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah, yakni dalam pengakuan bahwa Allah adalah Rabb mereka. Esensi dari fitrah ini terletak pada kesadaran spiritual bahwa manusia sejak awal penciptaannya telah bersaksi akan keesaan Allah. Inilah yang menjadi pondasi mendasar bagi pendidikan, khususnya dalam kerangka pendidikan Islam.
Pendidikan (Ta’dib): Proses Pembentukan Insan Beradab
Jika manusia dilahirkan dengan fitrah, maka pendidikan (ta’dib) adalah proses untuk menjaga dan memupuk fitrah tersebut. Pendidikan dalam pandangan Islam tidak semata-mata untuk mentransfer ilmu atau keterampilan, tetapi lebih dari itu, pendidikan bertujuan untuk mencetak manusia yang beradab, atau yang dikenal dengan istilah Insan Adabi. Konsep ini ditekankan oleh Prof. Naquib al-Attas, seorang ulama Melayu, yang menyatakan bahwa tujuan akhir dari pendidikan Islam adalah melahirkan manusia yang baik dan beradab.
Dalam pendidikan Islam, adab adalah fondasi utama yang menentukan nilai seorang manusia. Adab bukan hanya terkait dengan sikap sopan santun, tetapi mencakup kesadaran dan pemahaman diri sebagai hamba Allah yang senantiasa tunduk dan berserah diri kepada-Nya. Manusia yang beradab adalah mereka yang menyadari peran dan posisinya sebagai makhluk, yang secara konsisten mengarahkan hidupnya untuk mencapai ridha Allah.
Seperti yang dikemukakan oleh Prof. Wan Mohd Noor, Insan Adabi adalah sosok yang tidak hanya memahami siapa dirinya, tetapi juga menyadari potensi yang Allah berikan. Potensi ini diarahkan pada satu tujuan utama, yaitu beribadah kepada Allah dengan penuh keikhlasan, kejujuran, dan keadilan. Allah sendiri menegaskan bahwa tujuan penciptaan manusia dan jin adalah untuk beribadah kepada-Nya: “Tidaklah Aku ciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku” (Adz-Dzariyat: 56).
Jalan Menuju Tujuan: Pendidikan sebagai Proses Penyadaran
Dalam perspektif pendidikan Islam, ta’dib bukan hanya sekadar proses pembelajaran intelektual, tetapi sebuah proses pembinaan jiwa. Pendidikan menjadi sarana untuk menghubungkan manusia kembali pada fitrahnya, yakni kesadaran spiritual akan eksistensinya sebagai hamba Allah. Oleh karena itu, pendidikan yang sejati bukan hanya tentang bagaimana mengisi otak dengan informasi, tetapi bagaimana membentuk manusia menjadi pribadi yang beradab dan mampu mengenal serta mendekatkan diri kepada Penciptanya.
Pendidikan juga merupakan sarana untuk menjaga keseimbangan antara potensi fisik dan ruhaniyah yang dimiliki manusia. Dalam menjalani kehidupan, manusia dihadapkan pada berbagai tantangan yang berasal dari naluri duniawi maupun dorongan spiritual. Melalui pendidikan yang benar, manusia diarahkan untuk tidak terjebak dalam sisi hewaninya, melainkan untuk mengoptimalkan potensi akal dan ruhaninya, sehingga ia dapat menjalani kehidupan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab sebagai hamba Allah.
Penutup
Manusia dan pendidikan adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Manusia, dengan segala potensi dan fitrahnya, membutuhkan pendidikan sebagai jalan untuk mencapai tujuan hidupnya, yaitu beribadah dan mengabdi kepada Allah. Pendidikan, dalam makna ta’dib, tidak sekadar mentransfer pengetahuan, tetapi lebih dalam dari itu, ia adalah proses penyadaran diri, proses pembentukan adab, dan jalan menuju pengakuan hakiki bahwa manusia adalah makhluk yang harus senantiasa berserah diri kepada-Nya.
Dengan demikian, pendidikan menjadi proses transformasi yang tidak hanya memengaruhi aspek intelektual, tetapi juga mencakup seluruh dimensi kehidupan manusia, baik fisik, mental, maupun spiritual. Inilah hakikat dari hubungan manusia dan pendidikan—satu ikatan yang tak terpisahkan dalam perjalanan menuju kesempurnaan sebagai Insan Adabi.