Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag, M.Pd/ Ka. SMP AT TIN UMP Berbasis Pesantren, Margasari
Mendirikan pikiran untuk peduli lingkungan bukanlah tugas yang ringan, terutama ketika kita membawa pertimbangan dalam ranah filsafat, yang melibatkan Ilmu Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi. Dalam penulisan ini, Kami ingin mengakui secara tulus dan “berdikari”, tanpa motif apapun, sekaligus menyadari tanggung jawab atas pemikiran yang Kami sampaikan.
Pertama-tama, Kami memulai dari aspek yang paling mendasar, yaitu literasi berbasis ontologi Islam dan kaitannya terhadap amanah khalifatu fil ardh (penjaga bumi) yang kemudian diperkuat dengan kerangka epistemologi Islam yang menjadi dasar untuk menjaga lingkungan. Literasi di sini bukan hanya sebatas pemahaman huruf dan angka, namun juga mencakup pemahaman mendalam terhadap isu-isu lingkungan. Dengan literasi yang kuat, kita dapat melangkah ke tahap konsepsi, di mana pemahaman tentang lingkungan tidak lagi sekadar pengetahuan, melainkan suatu konsep yang terintegrasi dalam pemikiran kita. proses ini kami beri nama landasan ontologi-epistemologi.
Dalam ranah aksiologi, proses selanjutnya adalah melaksanakan aksi, sebuah langkah nyata untuk mewujudkan kepedulian terhadap lingkungan. Meskipun langkah-langkah yang diambil mungkin terlihat kecil pada awalnya, seperti yang saya akui, namun hal ini tidak mengurangi nilai etika manusiawi dari setiap tindakan yang diambil. Dalam konteks ini, saya mengajukan pertanyaan etis, apakah kita mampu bersikap jujur dan tulus memberikan “prasangka baik” terhadap upaya yang dilakukan, setidaknya memberikan prasangka positif sebelum membuat penilaian lebih lanjut.
Sebagai sebuah refleksi, Kami menyadari bahwa setiap individu memiliki progresnya sendiri dalam perjalanan peduli lingkungan. Seperti yang diungkapkan dalam analogi, setiap orang memiliki rapornya sendiri. Oleh karena itu, perlu dihindari kecenderungan untuk dengan mudah meremehkan atau menilai rapor lingkungan seseorang tanpa memahami konteks dan perjalanan pribadi yang diambil.
Sungguh tidak adil ketita meremehkan langkah-langkah yang diambil oleh individu, termasuk langkah-langkah kecil seperti yang Kami mengemban tanggung jawab akademis, Kami tidak mengemukakan ide ini dengan tujuan hanya untuk memperoleh pujian, mendapat keuntungan pribadi atau bahkan gaya-gayan, “wah hebat dalam ranah pemikiran”. Semua ini murni berasal dari kepedulian tulus terhadap lingkungan dan tanggung jawab sebagai seorang penulis. Apabila dinilai hanya dalam batasan pemikiran saja, seperti ada celetukan “wah kalau ini mah hanya pemikiran saja, tidak sampai aksi”, itu sah-sah saja kalau menilai begini untuk niat perbaikan Kami, tapi yang kami sesalkan jika ada yang nyeletuk seperti ini hanya karena posisinya takut tersaingi atau kalah validasi, hanya orang yang tidak punya muka yang suka mencari muka.
Dalam menyimpulkan, mari berkatalah jujur dan hindari meremehkan proses. Setiap langkah, sekecil apapun, merupakan bagian dari perjalanan panjang menuju kepedulian lingkungan yang lebih mendalam dan berkelanjutan. Dengan pemahaman ontologis, epistemologis, dan aksiologis yang kokoh, kita dapat bersama-sama membentuk paradigma baru dalam menjaga kelestarian alam bagi generasi mendatang.