Oleh: Rifky Maulana/ Pemerhati Literasi
Revolusi industri 4.0 adalah era di mana berkembang dengan sangat pesatnya teknologi terutama teknologi informasi atau teknologi digital. Dampak dari hal itu terjadilah berbagai kemudahan, namun di sisi lain juga muncul kesulitan dan kesenjangan yang disebut juga sebagai disrupsi. Untuk mengatasi hal itu, Perdana Mentri Jepang mencetuskan sebuah ide yang bernama society 5.0 (masyarakat 5.0). Berbeda dengan era sebelumnya di mana manusia fokus untuk mengembangkan teknologi, era 5.0 diharapkan bahwa manusialah sebagai pusat dari pemanfaatan teknologi tersebut. Hal ini ditujukan untuk menghapus berbagai kesenjangan yang diakibatkan revolusi industri sebelumnya semisal kesenjangan ekonomi dan informasi.
Oleh karenanya, untuk mewujudkan hal itu, dibutuhkanlah beberapa kemampuan dasar untuk mempersiapkan hal itu, yang pertama adalah literasi digital, kedua literasi keuangan, dan yang terakhir adalah literasi komunikasi dan leadership. Namun perlu diketahui, bahwa teknologi seperti dua mata pisau yang tajam. Apalagi sudah jamak diketahui bahwa teknologi juga menurunkan kualitas kemanusiaan baik secara intelektual, moral, dan spiritual.
Hal ini semakin dikuatkan dengan berita yang diterbitkan oleh website kompas yang mengatakan bahwa negara Swedia kembali menggunakan buku cetak karena terjadi penurunan angka literasi. Semenjak digunakannya media digital di negara tersebut sebagai media pembelajaran, angka literasi di negara tersebut menjadi turun, belum lagi penggunaan teknologi digital seperti sekarang megurangi kemampuan motorik manusia. Oleh karenanya mereka berani mengambil langkah besar dengan kembali pada hal-hal yang tradisional seperti membaca dan menulis guna meningkatkan kembali kualitas pendidikan mereka.
Artinya dari berita tersebut, kita mesti mengerti dan paham bahwa ada beberapa hal tradisional yang mesti dipertahankan mewujudkan ide masyarakat 5.0 beserta tujuan-tujuannya yang telah disebutkan di atas. Belum lagi, ide-ide untuk memasuki era 5.0 terlalu fokus pada pendidikan yang sifatnya kognitif, itu pun disempitkan pada hal-hal yang sifatnya informatif. Artinya kualitas literasi seperti kepahaman, daya reflektif, dan intuitif dari hasil bacaan kurang diperhatikan.
Apalagi jauh-jauh hari seorang Filsuf Raksasa bernama Mortime Adler menulis sebuah magnum opus yang berupa sebuah buku yang berjudul “How to read a book” yang mana buku itu berisikan bagaimana cara membaca yang komprehensif dan mendalam sehingga kita benar-benar paham isi dari sebuah buku sebagaimana yang ditulis oleh penulisnya. Hal itu disebabkan membaca ABCD saja tidak cukup alias hanya membaca teks tapi tanpa aktivitas baca yang lebih aktif. Bahkan secara sarkasme ia mengutip sebuah ucapan dari Paus Alexander yang mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang pandir yang banyak membaca buku yang membaca dengan cara yang bodoh.
Tentu hal ini sangat relevan sekali pada metode pembalajaran dari ide masyarakat 5.0 yang terlalu fokus pada hal –hal yang sangat informatif yang itu dikuatkan dengan sering digaungkannya istilah Big Data seolah-olah informasi saja telah cukup. Oleh karenanya saya menawarkan sebuah solusi yakni menghidupkan kembali pembelajaran yang bersifat tradisional untuk mewujudkan masyarakat 5.0, terutama membaca buku cetak, menulis, dan bagaimana cara membaca buku yang komprehensif sebagaimana yang telah diusulkan oleh Adler. Sebab itu merupakan kunci untuk membuka literasi digital, finansial, dan hal-hal lain yang diinginkan untuk mewujudkan masyarakat 5.0. Tentu saja usul saya tersebut tidak menafikan penggunaan teknologi sebagai media pembelajaran, namun perlu digarisbawahi bahwa beberapa hal tradisional harus dipertahankan dan ditingkatkan sembari penggunaan teknologi.